Refleksi Ekologis dan Spiritualitas Cinta Ciptaan

Rm. Stephanus Sumpana, MSC
banner 468x60

Dalam rangka Perayaan Nasional HUT 10 Tahun Laudato Si’ di Keuskupan Bogor

WONOSOBO — Taman Wisata Edukasi Ekologis Watu Gendhong bukan sekadar ruang hijau di kaki Gunung Sindoro, Wonosobo. Ia adalah panggilan iman, ruang kontemplasi, dan pusat pendidikan ekologis yang berpijak pada spiritualitas Laudato Si’ serta semangat JPIC: Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan.
Diprakarsai oleh Komunitas Daerah Jawa Tengah–Kalimantan Selatan (Komda MSC Jateng-Kalsel), taman ini menjadi perwujudan nyata cinta Allah terhadap alam semesta dan ajakan untuk hidup lebih bersahabat dengan bumi.

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Tokoh yang terlibat dalam refleksi ini, Rm. Stephanus Sumpana, MSC, menegaskan pentingnya kesadaran ekologis sebagai bagian tak terpisahkan dari spiritualitas iman dalam menjawab tantangan krisis lingkungan global.

Taman seluas kurang lebih 18.000 meter persegi ini dulunya merupakan lahan bekas galian C, namun kini diubah menjadi ruang edukasi ekologis yang mengandung nilai-nilai keimanan dan tanggung jawab sosial. Diresmikan pada 26 Maret 2013 oleh Bupati Wonosobo, H. Khaliq Arief, taman ini berdampingan dengan Pondok Pesantren Nurun Alannur 2 SMK Nusantara.

Keberadaannya mencerminkan harmoni lintas iman yang mendalam: spiritualitas Katolik dan Islam bersatu dalam merawat bumi sebagai rumah bersama.

Seiring waktu, taman ini terus bertumbuh menjadi ruang formasi ekologis yang hidup. Pada 8 Juni 2024, Taman Watu Gendhong memasuki babak baru. Sentra Spiritualitas MSC bersama Gerakan Laudato Si’ Indonesia menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk menjadikannya sebagai Laudato Si’ Centre—pusat refleksi, pelatihan, dan aksi nyata spiritualitas ekologis di Indonesia.

Kolaborasi ini memperkuat misi Gereja untuk menanggapi “jeritan bumi dan jeritan kaum kecil” melalui ekologi integral yang menyatukan iman, ilmu, dan gerakan sosial.

Salah satu kekhasan taman ini adalah semangat kemandirian. Agar taman dapat membiayai dirinya sendiri sekaligus membawa manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, pengelola mengembangkan daya tarik wisata yang edukatif dan berkelanjutan.

Dengan dukungan ahli lanskap, ruang-ruang dirancang agar estetik, fungsional, dan tetap alami. Tanaman langka, pepohonan konservasi, dan area teduh menjadi perpaduan antara keindahan dan kesadaran ekologis.

Sejalan dengan semangat Laudato Si’, taman ini menjadi tempat belajar membangun hubungan yang harmonis antara manusia, sesama, alam, dan Allah. Para pengunjung anak-anak, keluarga, komunitas iman, dan sekolah diajak untuk bertindak: memilah sampah, menanam pohon, membuat pupuk organik, hingga mengolah limbah.*

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60