WONOSOBO, Rabu (18/2)
“Sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.” Kejadian 3:19
Hari ini, dalam perayaan Rabu Abu, kita memasuki masa Prapaskah. Dahi kita ditandai dengan abu bukan sekadar simbol pertobatan pribadi, tetapi pengingat yang jujur dan rendah hati tentang siapa kita: berasal dari debu tanah dan akan kembali menjadi debu.
Abu adalah sisa dari sesuatu yang pernah hidup, terbakar, dan berubah bentuk. Ia berbicara tentang kefanaan, tetapi juga tentang transformasi. Dalam dinamika alam, abu bukan akhir. Ia menyuburkan tanah, memberi ruang bagi kehidupan baru untuk bertumbuh. Dari kehancuran, lahir harapan.
Secara ekologis, Rabu Abu mengajak kita menyadari keterhubungan kita dengan bumi. Kita bukan penguasa yang berdiri di atas ciptaan, melainkan bagian dari tanah yang sama. Nafas kita berasal dari udara yang sama. Tubuh kita tersusun dari unsur yang sama dengan tanah, air, dan pepohonan. Ketika bumi terluka, kita pun terluka. Ketika bumi dipulihkan, kita ikut dipulihkan.
Masa Prapaskah adalah undangan untuk kembali bukan hanya kembali kepada Allah, tetapi juga kembali kepada kesederhanaan, kepada ritme alam, kepada gaya hidup yang lebih ramah bumi. Pertobatan ekologis bukan tren, melainkan konsekuensi iman. Kita berpuasa bukan hanya dari makanan, tetapi dari keserakahan. Kita berpantang bukan hanya dari daging, tetapi dari sikap acuh tak acuh terhadap penderitaan ciptaan.
Abu di dahi kita adalah “tanda tanah”. Ia menghapus ilusi keabadian palsu dan menghidupkan kerendahan hati. Dari tanah kita dibentuk dengan kasih. Ke tanah kita kembali dalam pengharapan. Di antara dua titik itu, kita dipanggil untuk merawat kehidupan.
Mari memasuki Prapaskah ini dengan hati yang dinamis dan kreatif:
- Mengurangi sampah sebagai bentuk puasa ekologis.
- Menanam pohon sebagai tanda harapan.
- Menghemat air dan energi sebagai wujud pertobatan konkret.
- Menghidupi doa yang membumi yang menyentuh relasi dengan sesama dan alam.
Karena pada akhirnya, abu bukan hanya tanda kematian. Abu adalah undangan untuk bertumbuh dalam kesadaran: kita kecil, kita rapuh, tetapi kita dicintai. Dan dari tanah yang sederhana, Allah selalu mampu menumbuhkan kehidupan baru.
Selamat memasuki masa Prapaskah.
Mari kembali ke hati.
Mari kembali ke tanah.
rsumsc











