RENUNGAN HATI, Bagian ke-25: Sekolah Hati – Sentra Spiritualitas MSC

banner 468x60

WONOSOBO, Sabtu (7/3) –

“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Kejadian 2:15

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Ketika dunia mendengar tentang penutupan Strait of Hormuz akibat konflik di Middle East, kita langsung melihat betapa rapuhnya kehidupan global kita. Jalur sempit di laut itu menjadi nadi energi dunia. Ketika ia terhenti, ekonomi terguncang, harga energi melonjak, dan banyak negara merasakan dampaknya.

Peristiwa ini mengingatkan kita pada panggilan dasar manusia dalam Kitab Kejadian: mengusahakan dan memelihara bumi. Bumi bukan sekadar sumber daya yang diperebutkan, tetapi taman Allah yang dipercayakan kepada kita.

Namun sering kali manusia mengubah taman itu menjadi medan konflik perebutan minyak, kekuasaan, dan pengaruh. Ketika keserakahan memimpin, alam dan manusia sama-sama menjadi korban. Laut yang seharusnya menjadi jalur kehidupan berubah menjadi simbol ketegangan.

Secara ekologis, peristiwa ini juga menjadi tanda peringatan. Dunia yang terlalu bergantung pada energi yang memicu persaingan geopolitik akan selalu rapuh. Krisis seperti ini mendorong kita untuk bertanya:

  • Apakah kita sudah mengelola bumi sebagai penjaga, bukan penguasa yang serakah?
  • Apakah gaya hidup kita mendukung perdamaian dengan bumi?
  • Apakah kita berani beralih ke cara hidup yang lebih sederhana, berkelanjutan, dan adil?

Setiap krisis global sesungguhnya adalah panggilan pertobatan ekologis. Tuhan tidak hanya memanggil pemimpin dunia, tetapi juga kita di rumah, di komunitas, di Gereja untuk hidup lebih sadar bahwa bumi adalah rumah bersama.

Tuhan, ajarilah kami menjaga bumi sebagai taman-Mu.
Di tengah konflik dunia, bangkitkan dalam hati manusia semangat perdamaian, keadilan, dan tanggung jawab terhadap ciptaan-Mu.
Semoga kami menjadi penjaga kehidupan, bukan perusaknya. Amin.

rsumsc

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60