WONOSOBO, Selasa (10/3) –
“Orang benar akan bertunas seperti pohon kurma, akan tumbuh subur seperti pohon aras di Libanon.”
Kitab Mazmur 92:13
Menanam pohon adalah tindakan sederhana yang menyimpan makna spiritual yang dalam. Ketika kita menanam pohon kopi atau bunga di kawasan wisata edukasi ekologi Watugendong, kita sebenarnya sedang menanam harapan bagi masa depan bumi dan generasi yang akan datang.
Kitab Mazmur mengingatkan bahwa kehidupan yang berakar pada kebaikan akan bertumbuh dan berbuah, seperti pohon yang ditanam dengan penuh kesabaran. Sebuah pohon tidak tumbuh dalam sehari. Ia membutuhkan tanah yang subur, air, sinar matahari, dan perhatian yang terus-menerus. Demikian pula hati manusia: perlu dipelihara dengan cinta, kesadaran ekologis, dan tanggung jawab terhadap ciptaan.
Menanam pohon kopi dan bunga bukan hanya kegiatan ekologis, tetapi juga doa yang hidup. Setiap bibit yang ditanam menjadi tanda komitmen kita untuk merawat bumi sebagai rumah bersama. Bunga yang mekar mengajarkan keindahan berbagi kehidupan, sementara pohon kopi mengingatkan bahwa dari kesabaran dan perawatan lahir buah yang memberi sukacita bagi banyak orang.
Di Watugendong, kita belajar bahwa merawat alam berarti merawat hati. Tanah yang subur dan hati yang terbuka sama-sama menjadi tempat di mana kehidupan dapat bertumbuh.
Pertanyaan refleksi:
- Apakah saya sudah menanam kebaikan bagi bumi dan sesama hari ini?
- Bagaimana saya merawat “taman hati” saya agar tetap subur dan menghasilkan buah kebaikan?
Tuhan, ajarilah kami mencintai bumi seperti Engkau mencintai ciptaan-Mu. Semoga setiap pohon yang kami tanam menjadi tanda harapan, dan setiap langkah kami menjadi bagian dari pemulihan alam dan kehidupan. Amin.
rsumsc











