WONOSOBO, Kamis (12/3) –
“Jika biji gandum tidak jatuh ke dalam tanah dan mati, ia tetap satu biji saja; tetapi jika ia mati, ia akan menghasilkan banyak buah.”
Injil Yohanes 12:24
Di rumah duka, hati belajar diam.
Tidak banyak kata yang sungguh perlu diucapkan.
Yang hadir terutama adalah rasa: haru, syukur, kehilangan, dan kasih yang tetap tinggal.
Dalam misa pelepasan di rumah duka Tabita Ukrida dan pemakaman di Santiago Hill bagi Ibu Elisabeth Gunadi Adiyuwana Ibu Elly suasana itu terasa begitu sederhana, namun dalam. Seperti ruang batin yang perlahan terbuka.
Dari perjalanan PRH hadir Anne, putri tunggalnya. Dari para edukator PRH hadir Angie dan Lilik. Dari para collaborator PRH hadir Mbak Wie dan Setio. Kehadiran mereka seperti lingkaran hati yang pernah disentuh oleh perjalanan hidup Ibu Elly.
Dalam spiritualitas PRH, kita belajar memperhatikan gerak hati: ke mana hidup mendorong kita untuk memberi diri, mencintai, dan bertumbuh. Seorang edukator tidak hanya mengajar dengan pikiran, tetapi terutama dengan hidupnya.
Ibu Elly telah menaburkan banyak benih: perhatian, pendampingan, kesetiaan dalam relasi. Banyak dari benih itu mungkin tidak terlihat hari ini. Namun seperti biji gandum dalam Injil, benih itu bekerja diam-diam di dalam tanah kehidupan orang lain.
Kematian mengajak kita berhenti sejenak dan mendengarkan lebih dalam. Apa yang sungguh penting dalam hidup? Apa yang tinggal ketika semuanya dilepaskan?
Yang tinggal adalah kasih.
Yang tinggal adalah relasi yang pernah menghidupkan.
Yang tinggal adalah jejak hati yang pernah disentuh.
Dalam iman kepada Kristus, kita percaya: hidup tidak berhenti di batas kematian. Hidup hanya berubah bentuk dalam misteri kasih Allah.
Semoga Ibu Elly beristirahat dalam damai.
Dan semoga benih-benih kebaikan yang ia taburkan terus bertumbuh dalam hati banyak orang.
Dalam keheningan duka ini, kita juga diajak kembali ke sekolah hati:
mendengarkan, merawat kehidupan batin, dan membiarkan kasih Allah bekerja pelan-pelan di dalam diri kita.
rsumsc











