WONOSOBO, Jumat (20/3) –
“Ia menurunkan hujan bagi bumi dan mengairi ladang-ladang.”
Kitab Ayub 5:10
Air hujan jatuh tanpa kita minta, tanpa kita bayar. Ia datang dari langit sebagai anugerah yang diam-diam menghidupi. Dalam pengalaman membuat kolam penampungan air hujan di Taman Wisata Edukasi Ekologi Watugendong, kita belajar sesuatu yang sederhana namun mendalam: rahmat Tuhan seringkali hadir dalam bentuk yang paling biasa, tetapi kita kerap tidak siap menampungnya.
Air yang jatuh begitu saja bisa terbuang sia-sia, mengalir pergi tanpa memberi kehidupan. Namun ketika kita dengan sadar membuat kolam penampungan, kita sedang mengambil bagian dalam karya pemeliharaan ciptaan. Kita tidak menciptakan hujan, tetapi kita merawat dan memanfaatkannya dengan bijaksana. Di situlah spiritualitas ekologis lahir dari kesadaran bahwa manusia dipanggil bukan untuk menguasai, tetapi untuk menjaga.
Kolam itu menjadi simbol hati kita. Jika hati tertutup, rahmat pun berlalu. Tetapi jika hati dipersiapkan, rahmat yang “gratis” itu berubah menjadi sumber kehidupan bagi diri sendiri dan bagi sesama. Air hujan yang tertampung bisa menyirami tanaman, memberi kesejukan, dan menghadirkan keberlanjutan.
Hari ini kita diajak bertanya:
Apakah hati kita sudah siap menjadi “kolam” bagi rahmat Tuhan?
Ataukah kita membiarkan anugerah itu mengalir begitu saja tanpa makna?
Merawat air hujan adalah juga merawat kehidupan. Dan merawat kehidupan adalah bentuk doa yang nyata.
rsumsc











