WONOSOBO, Senin (23/3) –
“Janganlah kamu mencuri… dan janganlah kamu merusak bumi.”
(bdk. Kitab Keluaran 20:15; semangat Laudato Si’)
Peristiwa pencurian tabung gas di pos keamanan pada bulan suci Ramadan menghadirkan ironi yang menggugah hati. Di saat umat berusaha menahan diri, membersihkan jiwa, dan memperdalam iman, justru terjadi tindakan yang melukai kepercayaan dan merusak harmoni bersama. Aneh, tetapi nyata.
Sabda “jangan mencuri” bukan sekadar larangan mengambil milik orang lain. Ia adalah panggilan untuk hidup jujur, menghargai sesama, dan menjaga keseimbangan hidup bersama. Ketika seseorang mencuri, bukan hanya barang yang hilang—tetapi juga rasa aman, kepercayaan, dan damai.
Dalam terang ekologi, tindakan ini juga mencerminkan relasi manusia dengan ciptaan. Tabung gas bukan sekadar benda; ia bagian dari sumber daya yang menopang kehidupan banyak orang. Mengambilnya secara tidak benar berarti mengganggu keseimbangan sosial dan ekologis mengambil lebih dari yang menjadi hak, tanpa memikirkan dampaknya bagi orang lain.
Bulan suci seharusnya menjadi “sekolah hati”: tempat kita belajar cukup, belajar jujur, dan belajar peduli. Namun realitas ini mengingatkan bahwa pertobatan tidak terjadi otomatis karena waktu atau suasana religius. Ia menuntut kesadaran dan pilihan pribadi.
Maka, renungan ini mengajak kita:
- Apakah kita sungguh menghargai milik bersama?
- Apakah kita hidup secukupnya, tanpa mengambil yang bukan hak kita?
- Apakah kita menjaga “ekologi hati”—kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian?
Semoga peristiwa kecil namun bermakna ini menjadi cermin. Bahwa pertobatan sejati tidak hanya tampak dalam ibadah, tetapi juga dalam tindakan nyata jujur, adil, dan penuh hormat terhadap sesama dan ciptaan.
Tuhan, bentuklah hatiku menjadi jujur dan sederhana. Ajarku menghargai milik sesama dan menjaga ciptaan-Mu dengan penuh tanggung jawab. Amin.
rsumsc










