WONOSOBO, Jumat (27/3) –
“Bumi serta segala isinya adalah milik Tuhan.” Mazmur 24:1
Kesadaran bahwa bumi adalah milik Tuhan mengundang kita untuk bersikap bijak dalam setiap langkah hidup, termasuk cara kita bergerak dan bepergian. Pada hari-hari raya di Indonesia saat arus mudik, perjalanan wisata, dan mobilitas meningkat tajam kita dihadapkan pada pilihan: menjadi bagian dari beban bumi atau menjadi penjaga harmoni ciptaan.
Transportasi bukan sekadar soal berpindah tempat, tetapi juga soal tanggung jawab ekologis dan sosial. Kemacetan panjang, polusi udara, dan konsumsi energi berlebih menjadi tanda bahwa sistem yang kita jalani masih perlu ditata dengan semangat keberlanjutan. Di sinilah iman bertemu tindakan: kita dipanggil untuk memilih cara yang lebih ramah lingkungan—berbagi kendaraan, menggunakan transportasi umum, atau merencanakan perjalanan dengan bijak.
Mengelola transportasi secara terpadu dan berkelanjutan bukan hanya tugas pemerintah atau ahli, tetapi juga wujud pertobatan ekologis setiap pribadi. Setiap keputusan kecil berangkat lebih awal, mengurangi perjalanan yang tidak perlu, atau memilih moda transportasi yang efisien menjadi ungkapan syukur kita atas bumi yang dipercayakan Tuhan.
Hari raya seharusnya menjadi momentum sukacita, bukan hanya bagi manusia, tetapi juga bagi alam. Ketika kita bergerak dengan kesadaran, kita tidak hanya sampai ke tujuan, tetapi juga menjaga kehidupan tetap lestari.
Doa singkat
Tuhan, ajarilah kami mencintai bumi-Mu dengan tindakan nyata.
Bimbinglah kami agar bijak dalam setiap perjalanan,
supaya sukacita kami tidak melukai ciptaan-Mu. Amin.
*rsumsc*
RENUNGAN HATI, Bagian ke-43: Sekolah Hati – Sentra Spiritualitas MSC










