WONOSOBO, Minggu (29/3) –
“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)
Idulfitri bukan hanya momentum kembali kepada kesucian diri, tetapi juga kesempatan memperbarui relasi: dengan Tuhan, sesama, dan alam ciptaan. Dalam terang sabda ini, kita diingatkan bahwa manusia bukan sekadar penghuni bumi, melainkan penjaga kehidupan dipanggil untuk mengusahakan sekaligus merawat.
Silaturahmi bersama para budayawan dalam suasana hangat uyon-uyon di Gedung Budaya Anggrung menjadi tanda bahwa budaya dan spiritualitas dapat berjalan seiring. Nada-nada gamelan yang mengalun bukan sekadar hiburan, tetapi juga doa yang hidup menghubungkan manusia dengan akar tradisinya dan harmoni semesta.
Di tengah kebersamaan itu, kita belajar bahwa merawat relasi juga berarti merawat lingkungan budaya dan alam. Seperti gamelan yang hanya indah bila semua instrumen selaras, demikian pula kehidupan: damai tercipta saat manusia hidup seimbang dengan sesama dan bumi.
Pertanyaan reflektif:
- Sudahkah aku merawat “taman” yang dipercayakan Tuhan dalam hidupku?
- Bagaimana aku menjaga harmoni dengan sesama, budaya, dan alam di sekitarku?
Semoga silaturahmi Idulfitri ini meneguhkan panggilan kita: menjadi penjaga kehidupan yang penuh kasih, dalam kesederhanaan dan kebersamaan.
rsumsc











