WONOSOBO, Minggu (22/3) –
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” (Kejadian 2:15)
Ayat ini sederhana, namun sangat dalam: manusia tidak hanya dipanggil untuk hidup, tetapi juga untuk mengusahakan dan memelihara. Bukan menguasai dengan semena-mena, melainkan merawat dengan kasih, seperti seorang ibu menjaga kehidupan yang dipercayakan kepadanya.
Dalam perjalanan seorang ibu sarjana yang terbiasa berpikir, menganalisis, dan merencanakan ada saat di mana hidup justru membawa pada kebingungan yang sunyi. Terlebih ketika menghayati panggilan sebagai seorang suster projo: sederhana, tersembunyi, dan sering kali tidak banyak dimengerti orang lain. Bahkan diri sendiri pun bisa “terbengong-bengong,” bertanya: Mengapa aku ada di jalan ini?
Namun, seperti taman Eden, hidup ini bukan kebetulan. Ada tangan Tuhan yang menempatkan. Dukungan dari Keuskupan menjadi tanda nyata: bahwa panggilan ini bukan berjalan sendiri. Ada Gereja yang melihat, menopang, dan mempercayakan pelayanan.
Kesetiaan tidak selalu lahir dari kejelasan. Sering kali, ia justru tumbuh dari kebingungan yang dipeluk dengan iman. Seperti seorang ibu yang tetap merawat anaknya meski lelah dan tak selalu mengerti masa depan, demikian pula panggilan ini dijalani: dengan hati yang setia, bukan karena semuanya jelas, tetapi karena percaya bahwa Tuhan bekerja.
Ekologi hati pun menjadi penting: merawat batin, menjaga relasi dengan Tuhan, dan tidak membiarkan kelelahan mengeringkan kasih. Sebab taman yang paling pertama harus dipelihara adalah hati sendiri.
Hari ini, mungkin kita belum mengerti sepenuhnya jalan yang ditempuh. Namun jika Tuhan yang menempatkan, Ia juga yang akan memelihara.
Doa singkat:
Tuhan, ajarilah aku setia dalam kebingungan, tekun dalam pelayanan, dan lembut dalam merawat hidup seperti Engkau merawatku setiap hari. Amin.
rsumsc











