TAROANGGRO .COM –
“Bekerja dengan Tangan, Mendidik Hati”
“Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”
(Kolose 3:23)
Pengalaman seorang tukang yang bekerja di bawah terik matahari sangat manusiawi. Badan bisa lelah, pikiran bisa jenuh, dan semangat bisa turun. Apalagi bagi pembantu tukang yang sedang belajar. Sudah berusaha, tetapi hasil pekerjaannya masih harus dibongkar atau dikerjakan ulang oleh seniornya.
Di sinilah Sekolah Hati menjadi penting.
1. Jangan hanya mendidik tangan, tetapi juga hati
Menjadi tukang tidak cukup hanya bisa memegang alat. Perlu belajar teliti, sabar, bertanya, memperhatikan, dan mau dikoreksi.
Kalau pekerjaan kita salah dan senior memperbaiki, jangan langsung merasa,
“Saya tidak bisa.”
Tetapi ubahlah menjadi:
“Saya sedang belajar.”
Kesalahan bukan selalu kegagalan. Kadang kesalahan adalah guru yang paling jujur.
2. Untuk yang sedang belajar: jangan malu bertanya
Pembantu tukang yang baik bukan yang pura-pura sudah bisa, tetapi yang berani berkata:
“Pak, saya belum mengerti. Tolong ajari saya.”
Kerendahan hati mempercepat pertumbuhan.
Lebih baik bertanya sebelum mengerjakan daripada mengerjakan dengan sok tahu lalu harus dibongkar kembali.
3. Untuk senior: jangan hanya memperbaiki pekerjaan, tetapi mendidik orangnya
Senior mempunyai tanggung jawab bukan hanya menghasilkan pekerjaan yang bagus, tetapi juga melahirkan tukang yang semakin baik.
Ketika melihat kesalahan anak buah, jangan hanya berkata:
“Salah!”
Tetapi tunjukkan:
“Begini caranya. Mari kita kerjakan bersama. Besok kamu coba lagi.”
Tangan yang terampil dapat menghasilkan bangunan yang baik.
Tetapi hati yang sabar dapat membangun manusia.
4. Terik matahari juga bisa menjadi sekolah hati
Ketika badan terasa lelah karena panas, kita belajar ketekunan.
Ketika pekerjaan harus diulang, kita belajar kerendahan hati.
Ketika ditegur senior, kita belajar menerima koreksi.
Dan ketika melihat teman yang masih belajar, kita belajar kesabaran dan kasih.
Maka pekerjaan tukang bukan hanya membangun rumah, tembok, atau bangunan.
Pekerjaan juga sedang membangun hati kita.
Dan mungkin inilah salah satu bentuk spiritualitas MSC:
menghadirkan kasih Allah bukan hanya di kapel, tetapi juga di tempat kerja—melalui cara kita bekerja, berbicara, mengoreksi, belajar, dan memperlakukan satu sama lain.
Pertanyaan untuk direnungkan:
“Ketika pekerjaan saya belum sempurna, apakah saya menjadi rendah hati untuk belajar? Dan ketika orang lain belum mampu, apakah saya cukup sabar untuk mengajarinya?”
RSumsc










