Di dusun Anggrunggondok, tanah sedang disiapkan dengan sabar. Para petani menata harapan di balik cangkul dan doa, menunggu musim yang tepat agar benih tembakau bertumbuh setia. Di waktu yang sama, saudara-saudari Tionghoa merayakan Imlek menyambut tahun baru dengan syukur, harapan, dan tekad memperbaiki hidup.
Dua peristiwa, satu irama: kehidupan bergerak dalam musimnya. Ada saat menanam dengan kerja keras dan iman, ada saat merayakan dengan hati penuh terima kasih. Keduanya mengajarkan kita untuk peka membaca waktu Tuhan—kapan berjuang, kapan bersukacita—dan untuk saling menghormati jalan satu sama lain.
“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”
(Pengkhotbah 3:1)
Semoga kita diberi kebijaksanaan untuk setia menanam pada waktunya, rendah hati merayakan berkat, dan berjalan bersama sebagai satu keluarga manusia—berakar di tanah yang sama, berharap pada langit yang sama.
rsumsc











