WONOSOBO, Selasa (28/4/2026) –
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Injil Matius 5:9
Peristiwa kecelakaan kereta yang merenggut nyawa dan melukai banyak orang mengguncang batin kita. Dalam sekejap, rutinitas berubah menjadi duka; perjalanan yang biasa menjadi kisah kehilangan. Di tengah situasi ini, Sabda Tuhan mengundang kita untuk menjadi pembawa damai—bukan hanya dalam arti besar, tetapi juga dalam sikap hati yang peka, peduli, dan bertanggung jawab terhadap sesama dan lingkungan.
Secara edukasi-ekologis, peristiwa ini mengingatkan bahwa kehidupan manusia sangat terkait dengan sistem yang kita bangun: teknologi, transportasi, dan tata kelola. Ketika salah satu bagian rapuh entah karena kelalaian, kelelahan, atau kurangnya kehati-hatian dampaknya meluas, menyentuh banyak kehidupan. Maka, merawat “ekologi kehidupan” berarti juga membangun budaya keselamatan, disiplin, dan penghargaan terhadap hidup.
Hati yang belajar (sekolah hati) tidak berhenti pada rasa sedih. Ia bergerak menuju empati: mendoakan para korban, menguatkan keluarga yang berduka, dan mendukung mereka yang terluka. Lebih dari itu, hati yang terdidik secara spiritual berani bertanya: apa yang bisa kita ubah dalam diri dan sistem kita agar kehidupan lebih terjaga?
Semoga dari duka ini lahir kesadaran baru—bahwa setiap hidup berharga, bahwa kewaspadaan adalah bentuk kasih, dan bahwa damai sejati tumbuh dari tanggung jawab bersama.
Doa singkat:
Tuhan sumber kehidupan, terimalah mereka yang telah berpulang dalam kasih-Mu, kuatkan yang berduka dan yang terluka. Bentuklah hati kami agar lebih peduli, bijaksana, dan setia menjaga kehidupan. Amin.
rsumsc











