RENUNGAN HATI, Bagian ke- 17: Sekolah Hati – Sentra Spiritualitas MSC

banner 468x60

WONOSOBO, Kamis (26/2) –

“Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau.”
Kitab Yesaya 49:15

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Peristiwa seorang bayi berusia tiga hari yang dijual oleh ayah kandungnya sendiri mengguncang nurani kita. Hati kita bertanya: bagaimana mungkin relasi yang seharusnya menjadi ruang kasih dan perlindungan justru berubah menjadi ruang pengkhianatan?

Sabda Tuhan melalui Nabi Yesaya menegaskan bahwa kasih Allah melampaui bahkan kegagalan kasih manusia. Ketika relasi orang tua dan anak retak oleh dosa, ketakutan, kemiskinan, atau keputusasaan, Allah tetap setia menjaga kehidupan yang rapuh itu. Bayi yang tak berdaya itu tetap berada dalam pelukan penyelenggaraan Ilahi.

Secara Ekologis: Melihat Lebih Dalam

Dalam terang ensiklik Laudato Si’, kita diajak memahami bahwa krisis moral seperti ini tidak berdiri sendiri. Ini bukan hanya persoalan individu, tetapi bagian dari krisis ekologi manusia.

Ekologi bukan hanya tentang hutan dan laut. Ekologi juga berbicara tentang relasi:

  • relasi manusia dengan Tuhan,
  • relasi manusia dengan sesama,
  • dan relasi manusia dengan dirinya sendiri.

Ketika ekologi hati rusak ketika nilai kehidupan direndahkan menjadi komoditas maka yang lahir adalah budaya membuang (throwaway culture). Bayi bisa diperlakukan seperti barang. Martabat manusia direduksi menjadi nilai uang.

Kemiskinan struktural, tekanan sosial, kurangnya dukungan komunitas, lemahnya formasi iman dan karakter  semua ini adalah bagian dari “lingkungan sosial” yang membentuk keputusan tragis. Maka penyembuhan tidak cukup hanya dengan penegakan hukum, tetapi juga pemulihan ekosistem kasih:

  • keluarga yang lebih suportif,
  • Gereja yang hadir mendampingi,
  • masyarakat yang tidak menghakimi tetapi menolong,
  • negara yang melindungi yang paling lemah.

Pertobatan Ekologis Hati

Kita semua dipanggil pada pertobatan ekologis:
membangun kembali “rumah bersama” dimulai dari rumah hati.

Karena setiap bayi yang lahir adalah tanda harapan Allah bagi dunia.
Dan setiap kegagalan melindungi kehidupan adalah panggilan bagi kita untuk lebih mencintai.

Refleksi pribadi:

  • Apakah aku sungguh menghargai kehidupan sebagai anugerah?
  • Apakah aku peka terhadap keluarga-keluarga yang sedang terhimpit?
  • Apa yang bisa kulakukan agar lingkungan sekitarku menjadi ruang aman bagi kehidupan?

Semoga dari peristiwa yang menyakitkan ini, lahir kesadaran baru:
bahwa menjaga kehidupan sekecil apa pun adalah bagian dari menjaga ciptaan Tuhan.

rsumsc

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60