WONOSOBO, Jumat (13/3/2026) –
“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Kitab Kejadian 2:15
Hari ini saya teringat perjumpaan sederhana namun penuh makna dengan sepasang suami istri petani penggarap lahan di kawasan Taman Wisata Edukasi Ekologi Watugendong. Mereka hidup dekat dengan tanah, dekat dengan alam, dan tanpa disadari juga dekat dengan kebijaksanaan hidup.
Di tengah percakapan yang hangat, saya mendengar cerita tentang keluarga mereka. Anak laki-lakinya membantu menjual pupuk, berusaha mendukung kehidupan keluarga dari hasil bumi yang diolah para petani. Putri mereka yang baru berusia 16 tahun bekerja sebagai asisten rumah tangga di kota. Dalam kesederhanaan itu tampak perjuangan sebuah keluarga yang setia merawat kehidupan—seperti petani yang setia merawat tanahnya.
Sang kepala keluarga bahkan dengan tulus mengundang saya untuk berkunjung ke rumahnya. Undangan itu terasa lebih dari sekadar ajakan bertamu; itu adalah tanda keterbukaan hati, persaudaraan, dan kepercayaan.
Ayat dari Kitab Kejadian mengingatkan bahwa manusia dipanggil bukan hanya untuk memanfaatkan bumi, tetapi juga untuk mengusahakan dan memeliharanya. Para petani seperti keluarga ini menjalankan panggilan itu setiap hari. Mereka bekerja bersama tanah, merawatnya, menabur harapan di dalamnya, meski hidup mereka sendiri sering kali sederhana dan penuh tantangan.
Dari mereka kita belajar bahwa spiritualitas ekologis bukan teori besar, melainkan cara hidup: mencintai tanah, menghargai kerja keras, dan menjaga relasi dengan sesama. Alam, keluarga, dan iman bertemu dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin Tuhan berbicara melalui orang-orang sederhana seperti mereka. Dalam keringat para petani, dalam tanah yang diolah, dan dalam rumah kecil yang terbuka bagi tamu, kita melihat tanda bahwa Allah masih bekerja memelihara dunia ini melalui tangan manusia.
Pertanyaan refleksi:
- Apakah saya melihat pekerjaan sederhana sebagai bagian dari panggilan merawat ciptaan?
- Bagaimana saya bisa lebih menghargai orang-orang yang bekerja dekat dengan alam?
- Apakah hati saya juga terbuka seperti rumah petani itu siap menerima sesama?
Semoga hati kita terus belajar dari bumi, dari orang-orang sederhana, dan dari Tuhan yang mempercayakan dunia ini kepada kita.
rsumsc











