WONOSOBO, Minggu (15/3) –
“Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan.”
1 Korintus 3:6
Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa sedang bertumbuh… tetapi juga rapuh. Kita belajar hal baru, memahami diri lebih dalam, menghadapi emosi yang belum pernah kita kenali, dan perlahan-lahan melihat dunia dengan cara yang berbeda. Proses ini kadang membingungkan, kadang melelahkan, tetapi sekaligus mengagumkan.
Rasul Paulus mengingatkan bahwa kehidupan manusia mirip sebuah taman. Ada yang menanam benih pengalaman, pendidikan, perjumpaan dengan orang lain. Ada yang menyiram refleksi, dialog, pembelajaran, bahkan luka yang mengajarkan kebijaksanaan. Namun, pada akhirnya ada misteri yang lebih besar: pertumbuhan sejati selalu melampaui usaha manusia.
Secara intelektual kita belajar memahami dunia. Secara psikologis kita belajar memahami diri. Secara spiritual kita belajar percaya bahwa ada tangan yang diam-diam menumbuhkan kita dari dalam.
Seperti tanah yang menerima hujan, hati manusia juga membutuhkan ruang: ruang untuk bertanya, untuk merasa, untuk merenung. Dalam ruang itulah benih-benih makna bertunas. Kadang pertumbuhan itu tidak terlihat hari ini, tetapi suatu hari kita menyadari bahwa cara kita memandang hidup telah berubah.
Ekologi kehidupan rohani mengajarkan bahwa tidak ada pertumbuhan yang instan. Pohon yang kuat bertumbuh perlahan, akarnya menembus tanah, mencari air dalam kedalaman. Demikian juga manusia: kedewasaan lahir dari kesabaran, kejujuran pada diri sendiri, dan keterbukaan pada rahmat.
Maka mungkin pertanyaan renungan hari ini bukan: “Seberapa cepat aku berkembang?”
melainkan: “Benih apa yang sedang Tuhan tumbuhkan di dalam hatiku saat ini?”
Karena setiap pengalaman belajar, gagal, terluka, mengasihi dapat menjadi air yang menyuburkan kehidupan batin.
Dan diam-diam, tanpa kita sadari, Allah sedang menumbuhkan sesuatu yang indah di dalam diri kita.
rsumsc











