WONOSOBO, Rabu (18/3) –
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”*
Kitab Kejadian 2:15
Ayat ini mengingatkan bahwa sejak awal manusia tidak ditempatkan di bumi sebagai pemilik yang berkuasa semaunya, tetapi sebagai penjaga taman kehidupan. Tugas manusia adalah mengusahakan dan memelihara. Dua kata ini mengandung keseimbangan: berkarya dengan kreativitas sekaligus merawat dengan kasih.
Ketika kita menata taman wisata edukasi ekologi, kita sebenarnya sedang menghidupi panggilan yang sangat tua dan sangat suci: menjadi penjaga taman Allah. Setiap pohon yang ditanam, setiap tanah yang dirawat, setiap ruang hijau yang dibangun bukan sekadar proyek lingkungan, tetapi juga tindakan spiritual cara kita bekerja sama dengan Sang Pencipta.
Taman yang ditata dengan hati akan menjadi ruang belajar kehidupan. Anak-anak belajar menghargai alam. Para pengunjung belajar bahwa bumi bukan sekadar sumber keuntungan, tetapi rumah bersama yang perlu dijaga.
Maka menata taman bukan hanya pekerjaan tangan, tetapi juga pekerjaan hati. Di sana manusia belajar kembali menjadi sahabat bumi bukan penguasa yang merusak.
Pertanyaan refleksi:
Apakah taman yang kita bangun sudah menjadi tempat yang membantu orang mencintai dan merawat ciptaan Tuhan?
Doa singkat:
Tuhan, ajari kami mengolah bumi dengan bijaksana dan merawatnya dengan kasih, agar setiap taman yang kami bangun menjadi tanda kehadiran-Mu bagi semua makhluk. Amin.
rsumsc











