WONOSOBO, Sabtu (25/4/2026) –
“Segala yang bernafas, pujilah TUHAN!”
Mazmur 150:6
Nafas adalah anugerah paling sederhana, namun juga paling mendasar. Setiap tarikan dan hembusan mengingatkan bahwa hidup ini tidak kita miliki sepenuhnya—ia dipercayakan. Dalam setiap nafas, ada relasi: dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan bumi yang menopang kehidupan.
Hari ini kita diajak untuk kembali menyadari: udara yang kita hirup adalah hasil dari harmoni ciptaan. Hutan, laut, dan seluruh ekosistem bekerja dalam diam agar manusia tetap bisa bernafas. Maka merusak alam sama saja dengan melukai sumber kehidupan kita sendiri.
Di tengah dunia yang sering memilih konflik dan eskalasi, suara kebijaksanaan mengingatkan kita akan jalan lain. Seperti ditegaskan oleh Paus Leo XIV, masa depan kemanusiaan tidak dibangun dengan memperbesar ketegangan, tetapi dengan memperdalam dialog—diplomasi, bukan eskalasi. Sikap ini selaras dengan ritme nafas: tidak memaksa, tidak meledak-ledak, tetapi tenang, teratur, dan memberi kehidupan.
Refleksi:
* Apakah nafas hidupku membawa damai bagi sesama dan alam?
* Apakah aku lebih sering “menghembuskan” kemarahan atau kesejukan?
* Sudahkah aku merawat bumi sebagai ruang bersama untuk bernafas?
Doa Singkat:
Tuhan, ajarilah kami bernafas dalam kasih-Mu.
Dalam setiap tarikan, penuhilah kami dengan damai.
Dalam setiap hembusan, jadikan kami pembawa kesejukan bagi dunia.
Amin.
rsumsc











