Wonosobo, Rabu, 11 Feb 2026
“Sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”
(Matius 25:40)
Seorang anak SD di Ngada, NTT, mengakhiri hidupnya karena kemiskinan karena tak sanggup membeli alat sekolah seharga Rp10.000. Hati kita terhenyak. Angka yang bagi banyak orang nyaris tak berarti, justru menjadi beban yang terlalu berat bagi seorang anak kecil.
Di hadapan kisah ini, kita bertanya dengan getir: di manakah kita ketika seorang anak merasa hidupnya tak lagi bernilai? Di manakah masyarakat, sistem, dan kita orang-orang dewasa saat tangisan itu tak terdengar?
Yesus mengidentikkan diri-Nya dengan “yang paling hina”, yang kecil, yang rapuh, yang terpinggirkan. Anak ini adalah wajah Kristus yang terluka. Ketika ia tak mendapat pertolongan, itu bukan sekadar kegagalan sosial; itu juga panggilan iman yang terlewatkan.
Sekolah seharusnya menjadi ruang harapan, bukan sumber ketakutan. Pendidikan mestinya membebaskan, bukan menekan jiwa yang masih bertumbuh. Namun ketika kemiskinan bertemu dengan sunyinya perhatian, seorang anak bisa merasa sendirian terlalu sendirian.
Renungan ini mengajak kita untuk bersekolah kembali di sekolah hati: belajar peka, belajar hadir, belajar bertanya dan mendengar sebelum terlambat. Barangkali iman hari ini bukan soal doa yang panjang, tetapi soal kepekaan yang nyata melihat, menyapa, dan bertindak.
Tuhan, ajarlah kami untuk tidak memalingkan wajah dari anak-anak kecil-Mu. Bentuklah hati kami agar lebih cepat tergerak daripada menghakimi, lebih berani bertindak daripada sekadar berduka. Jangan biarkan kemiskinan dan kesepian kembali merenggut harapan seorang anak.
rsumsc











