WONOSOBO, Selasa (21/4/2026) –
“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
(Kejadian 2:15)
Kebakaran besar yang melahap ribuan rumah kayu di negara tetangga menjadi pengingat yang mengguncang: betapa rapuhnya ciptaan, dan betapa besar tanggung jawab manusia terhadapnya. Api yang seharusnya menjadi sahabat memberi hangat dan kehidupan dapat berubah menjadi bencana ketika tidak dijaga dengan bijaksana.
Firman Tuhan hari ini menegaskan panggilan dasar manusia: mengusahakan dan memelihara, bukan menguasai tanpa batas. Dalam konteks ekologis, ini berarti hidup dengan kesadaran bahwa setiap tindakan kita sekecil apa pun berdampak pada sesama dan alam. Rumah-rumah yang terbakar bukan hanya kehilangan fisik, tetapi juga kenangan, harapan, dan rasa aman.
Renungan ini mengajak kita masuk ke dalam “sekolah hati”:
* Apakah aku sungguh merawat bumi sebagai rumah bersama?
* Apakah aku peduli pada penderitaan sesama yang tertimpa bencana?
* Apakah aku menggunakan sumber daya dengan bijak, atau justru abai?
Belas kasih tidak berhenti pada rasa iba. Ia bergerak menjadi doa, solidaritas, dan tindakan nyata. Mungkin kita tidak berada di lokasi bencana, tetapi hati kita bisa hadir: melalui doa, dukungan, dan perubahan gaya hidup yang lebih peduli lingkungan.
Doa Singkat:
Tuhan, lembutkanlah hatiku agar peka terhadap jeritan bumi dan sesama. Ajarku merawat ciptaan-Mu dengan kasih dan tanggung jawab, agar api kehidupan tetap menjadi berkat, bukan malapetaka. Amin.
rsumsc











