WONOSOBO, Sabtu (14/2).
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
— Kejadian 2:15
Hari ini banyak orang merayakan Valentine’s Day, hari kasih sayang. Namun di tengah kabar kekerasan dan luka di tanah Papua, kita diingatkan bahwa kasih sejati tidak berhenti pada kata-kata manis atau simbol-simbol romantis. Kasih sejati adalah komitmen untuk menjaga kehidupan.
Peristiwa kekerasan bukan hanya melukai manusia, tetapi juga melukai bumi tempat darah itu tertumpah. Tanah yang diciptakan Tuhan untuk kehidupan berubah menjadi saksi penderitaan. Di sinilah makna kasih menjadi lebih dalam: mencintai berarti memelihara, bukan merusak; melindungi, bukan menghancurkan.
Sejak awal, manusia ditempatkan di taman untuk “mengusahakan dan memelihara.” Itu adalah panggilan kasih yang pertama. Maka, perayaan kasih hari ini mengajak kita memperluas hati: mencintai sesama tanpa kekerasan, mencintai tanah tempat kita berpijak, dan mencintai Tuhan Sang Pencipta.
Kasih yang sejati selalu ekologis—ia menjaga relasi dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan seluruh ciptaan. Bila hati kita menjadi “taman” yang dipenuhi damai, maka dari sanalah akan tumbuh sikap hormat, dialog, dan kepedulian.
Di Hari Kasih Sayang ini, marilah kita memilih menjadi penjaga kehidupan. Karena kasih yang paling indah bukan hanya diucapkan, tetapi diwujudkan dalam tindakan yang melindungi dan merawat.
Doa:
Allah Pencipta dan Sumber Kasih, ajarilah kami mencintai seperti Engkau mencintai: lembut namun kuat menjaga kehidupan. Pulihkanlah tanah yang terluka dan hati yang hancur. Jadikanlah kami pembawa damai dan penjaga ciptaan-Mu. Amin.
rsumsc











