WONOSOBO, Kamis (23/4/2026) –
“Siapa yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga; dan siapa yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.”
Alkitab, 2 Korintus 9:6
Hari ini kita diajak merenung dari kacamata para petani mereka yang menabur dengan kerja keras, harapan, dan ketekunan. Namun realitas tidak selalu sejalan: biaya tanam tinggi, perawatan mahal, tetapi saat panen, harga jatuh. Keringat tidak sebanding dengan hasil. Hati pun mudah menjadi lelah, bahkan putus asa.
Sabda ini bukan sekadar soal jumlah hasil, tetapi tentang kesetiaan dalam menabur. Menabur bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga tindakan iman. Petani mengajarkan kita bahwa hidup adalah proses mempercayakan hasil kepada Tuhan, meski situasi pasar tidak adil dan sistem sering tidak berpihak.
Dalam terang ekologi, kita diingatkan bahwa bumi memberi sesuai dengan keseimbangan yang dijaga. Ketika rantai distribusi tidak adil, ketika konsumsi tidak bijak, yang terluka bukan hanya petani, tetapi juga ciptaan itu sendiri. Kita semua terhubung.
Maka renungan ini mengundang kita:
*Untuk tetap setia menabur kebaikan, meski hasil belum terlihat.
* Untuk lebih peka terhadap jeritan para petani dan alam.
* Untuk membangun solidaritas menghargai hasil bumi dengan adil dan bijaksana.
Doa singkat:
Tuhan, kuatkan hati mereka yang menabur dengan air mata. Ajari kami untuk hidup adil terhadap sesama dan bumi. Semoga setiap benih yang ditanam dalam kasih, pada waktunya berbuah dalam harapan. Amin.
rsumsc











