WONOSOBO, Senin (20/4) –
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”
Kitab Kejadian 2:15
Langkah kaki kita hari ini menuju kawasan kuliner di Taman Wisata Edukasi Ekologi Watugendong bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah perjalanan hati. Setiap pijakan di tanah mengingatkan kita bahwa bumi ini bukan milik kita semata, melainkan titipan yang harus diusahakan dan dipelihara.
Sering kali, perjalanan kecil seperti ini terasa biasa. Kita berjalan, berbincang, mungkin tergoda untuk segera sampai dan menikmati makanan. Namun, di tengah perjalanan itu, ada undangan halus: berhenti sejenak dalam hati, menyadari angin yang menyapa, suara alam yang hidup, dan jejak-jejak kehidupan di sekitar kita.
Ayat dari Kitab Kejadian mengajak kita melihat kembali identitas kita sebagai penjaga, bukan penguasa. Saat kita melangkah di jalur menuju tempat kuliner, kita juga diajak untuk bertanya:
Apakah langkahku hari ini membawa kehidupan?
Apakah kehadiranku merawat atau justru melukai ciptaan?
Ekologi bukan hanya soal alam, tetapi juga tentang hati. Hati yang peka akan lebih berhati-hati membuang sampah, lebih bersyukur atas makanan, dan lebih sadar akan relasi dengan sesama serta seluruh ciptaan.
Biarlah perjalanan kaki ini menjadi latihan sederhana: berjalan dengan sadar, menikmati tanpa merusak, dan bersyukur tanpa berlebihan. Sebab di setiap langkah, kita sedang belajar menjadi manusia yang setia merawat taman kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita.
Doa singkat:
Tuhan, ajarilah kami berjalan dengan hati yang peka, mencintai bumi seperti Engkau mencintainya, dan menjaga setiap anugerah kecil yang kami jumpai hari ini. Amin.
rsumsc











