WONOSOBO, Jumat (3/4) – “Sesudah itu, karena Alkitab mengatakan bahwa segala sesuatu telah selesai, berkatalah Yesus supaya genaplah yang ada tertulis dalam Kitab Suci: ‘Aku haus!’” (Yohanes 19:28)
Di Golgota, saat hidup-Nya hampir berakhir, Yesus mengucapkan satu kalimat sederhana namun sangat dalam: “Aku haus.” Haus ini bukan hanya haus fisik, tetapi juga menggambarkan kerinduan Allah akan manusia dan seluruh ciptaan yang terluka.
Seruan ini bisa kita dengar hari ini sebagai jeritan bumi. Alam yang rusak, air yang tercemar, hutan yang hilang semuanya seperti ikut “berseru” bersama Yesus: Aku haus akan kepedulian, keadilan, dan pemulihan. Salib tidak hanya berbicara tentang keselamatan manusia, tetapi juga pemulihan seluruh ciptaan.
Yesus wafat di tengah alam terbuka di Golgota, di bawah langit, di atas tanah. Itu mengingatkan kita bahwa karya penebusan-Nya menyentuh seluruh kosmos. Maka, menjadi murid Kristus berarti juga merawat bumi sebagai rumah bersama.
Pertanyaan refleksi:
- Apakah aku peka terhadap “kehausan” bumi di sekitarku?
- Langkah kecil apa yang bisa kulakukan untuk merawat ciptaan sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan
Tuhan Yesus, yang haus di kayu salib, ajarlah aku untuk peka terhadap penderitaan sesama dan jeritan alam. Bentuklah hatiku agar mencintai dan merawat bumi sebagai anugerah-Mu. Amin.
rsumsc











