WONOSOBO, Kamis (9/4) –
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
(Matius 5:9)
Peristiwa tabrakan beruntun akibat rem blong di Madukoro, Wonosobo, yang merenggut nyawa dan meninggalkan duka mendalam, kembali menyentak hati kita. Ini bukan sekadar kecelakaan teknis ini adalah panggilan untuk merenung lebih dalam tentang relasi manusia dengan sesama, dengan alam, dan dengan tanggung jawab hidup itu sendiri.
Dalam terang iman dan kesadaran ekologis, kejadian seperti ini sering kali berakar pada kelalaian: perawatan kendaraan yang diabaikan, eksploitasi sumber daya tanpa batas, hingga sistem kerja yang memaksa manusia melampaui batas kemanusiaannya. Semua ini adalah bagian dari krisis yang lebih luas krisis kepedulian.
Paus Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si’ mengingatkan bahwa bumi dan segala isinya adalah “rumah bersama” yang harus dijaga dengan tanggung jawab dan kasih. Ketika kita abai baik pada mesin, jalan, maupun sistem kita sedang merusak harmoni itu.
Kecelakaan bukan hanya soal nasib, tetapi sering kali buah dari pilihan-pilihan kecil yang diabaikan: pemeriksaan rem yang tertunda, muatan berlebih, atau tekanan ekonomi yang menutup mata nurani. Di sinilah iman memanggil kita: untuk menjadi pembawa damai, bukan hanya dalam kata, tetapi dalam tindakan nyata termasuk disiplin, kehati-hatian, dan penghargaan terhadap kehidupan.
Mari kita belajar:
- Merawat apa yang kita gunakan, karena itu bisa menjadi alat kehidupan atau kematian.
- Menghargai batas, baik batas alam maupun batas kemampuan manusia.
- Menumbuhkan solidaritas, agar sistem yang kita bangun tidak mengorbankan yang lemah.
Doa kita hari ini:
Tuhan, ajarlah kami untuk lebih peduli, lebih waspada, dan lebih mengasihi dalam setiap tindakan kecil kami. Jadikan kami pembawa damai, bahkan di jalanan kehidupan yang penuh risiko. Amin.
rsumsc











