TAROANGGRO.COM –
“Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya.”
(Pengkhotbah 3:11)
Hujan, Pupuk, dan Harapan
Kemarin sore hujan turun. Malam ini langit mendung, tetapi hujan belum juga datang. Alam mengajarkan kita sesuatu: tidak semua yang kita harapkan datang tepat pada saat kita menginginkannya. Tetapi mendung adalah tanda bahwa langit belum berhenti bekerja.
Begitu juga dengan hati. Kadang kita sudah berdoa, sudah berusaha, sudah menunggu, tetapi hasilnya belum kelihatan. Jangan buru-buru menganggap Allah tidak bekerja.
Akhir September ini, ketika hujan mulai datang, kita sudah bisa mulai merawat dan memupuk tanaman. Pupuk tidak langsung membuat tanaman berbuah. Ia bekerja perlahan, masuk ke tanah, diserap akar, lalu sedikit demi sedikit menguatkan kehidupan.
Hati manusia juga perlu dipupuk.
Dengan doa, kesabaran, kejujuran, pengampunan, kerja keras, dan kepedulian terhadap sesama serta alam.
Jangan hanya bertanya:
“Kapan hujan turun?”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang sudah saya persiapkan ketika hujan turun?”
Jangan hanya menunggu Tuhan memberi pertumbuhan. Rawatlah apa yang sudah Tuhan percayakan.
Hujan adalah rahmat.
Tanah adalah kepercayaan.
Tanaman adalah kehidupan.
Dan hati adalah tempat kita belajar berharap.
Maka ketika langit mendung tetapi hujan belum turun, jangan kehilangan harapan. Mungkin Tuhan sedang mengajar kita bahwa beriman bukan hanya menunggu hujan, tetapi tetap menyiapkan pupuk, merawat tanah, dan percaya bahwa pada waktunya kehidupan akan bertumbuh.
Pertanyaan untuk mengedukasi hati:
Apa yang sedang saya tunggu dari Tuhan, dan apa yang sebenarnya sudah bisa saya rawat mulai hari ini?
RSumsc










