TAROANGGRO.COM –
“Merawat Tanah, Menyuburkan Hati”
“Yang menabur sedikit, akan menuai sedikit; dan yang menabur banyak, akan menuai banyak.”
(2Kor 9:6)
Merawat tanaman kopi dengan pupuk organik mengajarkan kita bahwa pertumbuhan tidak terjadi secara instan. Pupuk dimasukkan ke tanah, tetapi hasilnya tidak langsung terlihat. Tanah perlu waktu untuk mengolahnya menjadi nutrisi yang dapat diserap oleh akar.
Begitu juga dengan hati manusia. Kebaikan yang kita berikan kesabaran, perhatian, pengampunan, doa, dan pengorbanan kadang tidak langsung menghasilkan perubahan. Tetapi semuanya menjadi “pupuk” bagi kehidupan.
Rencana membuat biopori juga mengandung pelajaran bagi hati. Lubang kecil di tanah memberi jalan bagi air untuk masuk lebih dalam, membawa kelembapan dan nutrisi mendekati akar. Hati pun membutuhkan “biopori” rohani: ruang-ruang kecil untuk menerima air kehidupan dari Tuhan—doa, keheningan, Kitab Suci, pengampunan, dan perjumpaan dengan sesama.
Tanah yang tertutup membuat air mengalir begitu saja.
Hati yang tertutup membuat kasih Tuhan sulit meresap.
Maka, sebelum bertanya, “Mengapa tanaman saya tidak bertumbuh?”, mungkin kita perlu bertanya:
“Apakah tanahnya sudah saya rawat?”
Dan sebelum bertanya, “Mengapa orang lain tidak berubah?”, kita pun perlu bertanya:
“Apakah hati saya sudah memberi ruang bagi kasih Tuhan untuk meresap?”
Biopori mengajarkan: buatlah jalan bagi air.
Sekolah Hati mengajarkan: buatlah jalan bagi kasih.
Karena tanah yang sehat menumbuhkan tanaman yang kuat; hati yang subur menumbuhkan kehidupan yang penuh kasih.
RSumsc










