RENUNGAN HATI, Bagian Ke-53: Sekolah Hati – Sentra Spiritualitas MSC

banner 468x60

WONOSOBO, Sabtu (11/4) –

“Segala sesuatu ada waktunya… ada waktu untuk merombak dan ada waktu untuk membangun.”
Alkitab, Pengkhotbah 3:1,3

Bacaan Lainnya
banner 300x250

Perjalanan panjang yang tertunda karena kemacetan entah akibat truk terguling atau perbaikan jembatan sering terasa menjengkelkan. Kita sudah punya rencana, waktu sudah dihitung, tetapi kenyataan berkata lain. Kita dipaksa berhenti, melambat, bahkan mungkin mengambil jalan memutar.

Namun, justru di situlah pelajaran ekologis dan spiritual tersembunyi.

Perbaikan jembatan mengingatkan kita bahwa infrastruktur, seperti juga alam, membutuhkan waktu untuk dipulihkan. Kerusakan tidak bisa diabaikan; ia harus diperbaiki demi keselamatan bersama. Begitu juga bumi kita ketika ia “macet” oleh kerusakan lingkungan, kita dipanggil untuk tidak sekadar mengeluh, tetapi ikut ambil bagian dalam pemulihan.

Kemacetan juga mengundang kita untuk berdamai dengan keterbatasan. Kita diingatkan bahwa kita bukan penguasa waktu sepenuhnya. Dalam keheningan di tengah antrian kendaraan, kita bisa belajar melihat lebih dalam: apakah hidup kita juga sedang “terlalu cepat” hingga lupa berhenti, lupa merawat, lupa memperbaiki?

Barangkali Tuhan sedang mengajar kita melalui jalan yang tersendat:
bahwa memperlambat langkah bukan berarti kehilangan arah,
melainkan kesempatan untuk menyelaraskan kembali hati dengan irama ciptaan.

Refleksi:

  • Apa yang dalam hidupku saat ini “perlu diperbaiki” sebelum aku melangkah lebih jauh?
  • Bagaimana aku bisa lebih sabar dan sadar dalam menghadapi keterlambatan?
  • Apakah aku sudah ikut menjaga “jembatan” kehidupan alam, relasi, dan diriku sendiri?

Doa Singkat:
Tuhan, ajarilah aku untuk menerima waktu-Mu, bukan hanya waktuku.
Dalam kemacetan hidup, tuntun aku untuk melihat makna, bukan sekadar hambatan.
Bentuklah hatiku agar lebih sabar, peduli, dan selaras dengan ciptaan-Mu. Amin.

rsumsc

banner 300x250

Pos terkait

banner 468x60