WONOSOBO, Senin (13/4) –
“Tuhan Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”(Kejadian 2:15)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa sejak awal, manusia dipanggil bukan hanya untuk menikmati ciptaan, tetapi juga untuk mengelola dan merawatnya dengan tanggung nawab. Spirit ini sangat dekat dengan nilai-nilai dalam kehidupan bersama, termasuk dalam gerakan Credit Union.
Friedrich Wilhelm Raiffeisen mendirikan Credit Union pada tahun 1864 dengan semangat solidaritas membantu masyarakat kecil agar mampu bangkit dari kemiskinan melalui kebersamaan dan tanggung jawab. Semangat ini bukan sekadar ekonomi, tetapi juga moral dan spirituale: manusia dipanggil untuk saling menjaga kehidupan, bukan saling mengeksploitasi.
Di Indonesia, semangat ini diteruskan oleh Karl Albrecht SJ, yang melihat bahwa kesejahteraan sejati lahir dari komunitas yang saling percaya, saling menolong, dan hidup dalam keadilan.
Menjadi anggota Credit Union bukan hanya soal menabung atau meminjam, tetapi juga tentang menghidupi nilai injili:
- peduli terhadap sesama yang lemah
- bijak dalam mengelola sumber daya
- membangun kesejahteraan bersama tanpa merusak lingkungan
Seperti taman Eden yang dipercayakan kepada manusia, demikian pula komunitas CU adalah “taman bersama”yang harus kita pelihara dengan kejujuran, tanggung jawab, dan kasih.
Pertanyaan refleksi:
Apakah aku sudah mengelola berkat baik uang, relasi, maupun lingkungan dengan semangat menjaga dan menghidupi, bukan hanya memakai?
Semoga kita semakin menjadi pribadi yang setia merawat kehidupan, dalam iman dan tindakan nyata.
rsumsc










