WONOSOBO, Selasa (14/4) –
“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.” Kitab Kejadian 2:15
Di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing, para petani bangun sebelum matahari menyentuh pucuk-pucuk daun tembakau. Tanah digarap dengan setia, musim dibaca dengan hati, dan harapan ditanam bersama benih. Namun di tengah kesetiaan itu, kita diajak berhenti sejenak: apakah yang kita usahakan sungguh juga kita pelihara?
Firman Tuhan hari ini menegaskan dua panggilan yang tak terpisahkan: mengusahakan dan memelihara. Bukan hanya menghasilkan, tetapi juga merawat keberlanjutan hidup. Dalam terang ini, kita merenungkan praktik pertanian yang kita jalani termasuk penanaman tembakau yang kerap memberi penghidupan, namun juga menyimpan pertanyaan tentang kesehatan tanah, air, dan masa depan generasi.
Bumi bukan sekadar lahan produksi; ia adalah rumah bersama. Setiap cangkul yang menembus tanah adalah juga kesempatan untuk memilih: apakah kita memperkaya atau menguras? Apakah kita menjaga keseimbangan, atau hanya mengejar hasil sesaat?
Mungkin perubahan tidak mudah. Tradisi, kebutuhan ekonomi, dan ketergantungan pasar sering mengikat langkah. Namun iman mengundang kita untuk berani melihat kemungkinan baru: diversifikasi tanaman, praktik pertanian ramah lingkungan, dan kerja sama komunitas yang lebih adil. Semua ini adalah wujud nyata dari “memelihara taman” yang dipercayakan Tuhan.
Hari ini, mari kita bertanya dalam hati:
Apa langkah kecil yang bisa aku ambil untuk lebih menghormati tanah yang kuolah?
Bagaimana aku bisa menjadi penjaga, bukan hanya penggarap?
Semoga Roh Kebijaksanaan menuntun para petani di lereng Sindoro dan Sumbing dan kita semua untuk setia mengusahakan sekaligus memelihara, demi kehidupan yang lebih utuh dan berkelanjutan.
rsumsc











